Osteoporosis

Tahukah Anda bahwa: 1 dari 3 wanita pos menopause dan 1 dari 5 pria berusia di atas 50 tahun, terkena osteoporosis; 1 dari 5 orang berusia di atas 60 tahun di Indonesia menderita osteoporosis.

Apakah Osteoporosis Itu ?

Menurut WHO, Badan Kesehatan Dunia, osteoporosis adalah penurunan densitas tulang, kerusakan arsitektur tulang dan meluasnya kerapuhan tulang .

 

Lalu Apa Dampak Osteoporosis Itu?

 

Kekuatan tulang akan menurun dan risiko patah tulang meningkat.

Apa yang Menjadi Penyebab Terjadinya Osteoporosis?

-          Massa tulang puncak yang memadai tidak tercapai

-          Ketidakseimbangan pada proses remodeling tulang: resorpsi/penyerapan tulang lebih besar dari pembentukan - pembongkaran tulang meningkat - perubahan massa, struktur dan kekuatan tulang - osteoporosis

Siapa Saja yang Berisiko Menderita Osteoporosis?

-          Wanita pos menopause

-          Berusia 65 tahun atau lebih

-          Adanya riwayat keluarga yang mengalami tulang patah/retak

-          Mengalami tulang patah/retak dan luka berat setelah usia 40 tahun

-          Penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang (selama 3 bulan berturut-turut atau lebih)

-          Terlalu kurus atau berat badan rendah

-          Kurang asupan kalsium dan vitamin D

-          Aktivitas kurang atau terlalu berlebihan

-          Menopause awal

-          Memiliki penyakit lain, seperti gagal ginjal, dialysis/cuci darah, hipotiroid, malabsorbsi

Gejala-Gejala Osteoporosis

Osteoporosis seringkali disebut sebagai silent disease karena proses hilangnya tulang berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai adanya gejala. Gejala-gejala yang timbul seperti patah tulang, tulang punggung yang semakin membungkuk, hilangnya tinggi badan serta nyeri punggung seringkali timbul pada tahap osteoporosis lanjut, atau kondisi-kondisi tersebut lebih banyak diabaikan karena dianggap merupakan proses alami penuaan.

Akibat Osteoporosis

Patah tulang yang diakibatkan oleh osteoporosis dapat menimbulkan nyeri, bahkan kematian serta membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui risiko osteoporosis sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan yang tepat.

Bagaimana Mengetahui Kondisi Tulang?

Untuk mengetahui kondisi tulang, dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni Bone mineral density dan penanda biokimiawi tulang. Secara prinsip kedua pemeriksaan ini berbeda, namun diharapkan dapat saling melengkapi hingga didapatkan informasi yang lebih lengkap tentang status tulang.

Bone Mineral Density

Suatu pemeriksaan yang mengukur densitas/kepadatan mineral (contohnya kalsium) dalam tulang dengan sinar X khusus, CT scan atau ultrasonografi. Informasi ini menunjukkan kepadatan tulang saat pemeriksaan dilakukan. BMD tidak dapat memprediksi densitas tulang pada masa yang akan datang.

Pemeriksaan Laboratorium: Penanda Biokimia Tulang

Pemeriksaan ini menggunakan sampel darah, mewakili proses reformasi tulang, sehingga memberikan informasi mengenai ketidakseimbangan potensial antara pembentukan dan resopsi tulang .

Karena risiko tulang patah/retak, sebagai dampak osteoporosis, ternyata tidak selalu berhubungan langsung dengan penurunan nilai BMD, maka untuk diagnosa lebih baik dibutuhkan kombinasi dengan pemeriksaan Penanda Tulang.

Mengapa Perlu Pemeriksaan Laboratorium?

Pemeriksaan laboratorium dapat menilai aktivitas pembentukan dan pembongkaran tulang serta keseimbangan antara kedua aktivitas tersebut. Bila aktivitas penyerapan atau pembongkaran tulang lebih besar dibandingkan dengan aktivitas pembentukan tulang, maka kepadatan tulang akan cepat berkurang atau berisiko mengalami osteoporosis di kemudian hari.

Apa Yang Diperiksa:

1.      N-Mid Osteocalcin,  untuk menilai pembentukan tulang

N-MID Osteocalcin adalah salah satu bagian osteocalcin, yakni protein yang diproduksi oleh osteoblast. Osteoblast merupakan sel yang berperan dalam pembentukan tulang, karena itu kadar osteocalcin menunjukkan juga aktivitas osteoblast yakni pembentukan tulang.

2.      CT-x (C-Telopeptide), untuk menilai resorpsi/pembongkaran tulang

Kapan Pemeriksaan Laboratorium Diperlukan?

-          Jika memiliki risiko tinggi terkena osteoporosis, yakni untuk deteksi dini

-          Pengukuran keseimbangan pembongkaran tulang pada pria dan wanita usia diatas 40 tahun, karena kehilangan tulang dimulai pada usia sekitar 40 tahun

-          Pengukuran sebelum dilakukannya terapi antiresorpsi oral

-          Pengukuran pada 3 bulan setelah terapi antiresorpsi oral. Untuk mengetahui efikasi  terapi  dan untuk melihat apakah terapi yang diberikan sudah tepat atau belum.

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Hasil Pemeriksaan Laboratorium Menunjukkan Risiko Osteoporosis Anda tinggi?

Konsultasikan dengan dokter keluarga Anda. Bila perlu, dokter akan meminta Anda melakukan pemeriksaan lanjutan misalnya dengan pemeriksaan Bone Mineral Density untuk menentukan tingkat kepadatan dan kondisi tulang serta memastikan ada tidaknya osteoporosis.

Panel Osteoporosis

Untuk memudahkan Anda, Laboratorium Klinik Prodia telah menyediakan satu panel khusus yakni Panel Osteoporosis yang terdiri dari pemeriksaan N-MID Osteocalcin dan CTx (C-Telopeptide).