Insiden penyakit ginjal kronis cukup tinggi di Indonesia, prognosis penyakitnya buruk dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar. Penyakit ginjal kronis sering baru terdeteksi pada stadium lanjut karena pada stadium dini umumnya tidak menunjukkan gejala yang spesifik, meskipun fungsi ginjal sudah mengalami penurunan. Deteksi dini penyakit ginjal kronis dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, salah satunya adalah pemeriksaan Cystatin C. Kadar Cystatin C dalam darah memperkirakan laju
filtrasi glomerulus ginjal untuk menentukan fungsi ginjal. Peningkatan Cystatin C menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal. Kriteria penyakit ginjal kronis National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQI) adalah kerusakan ginjal lebih dari tiga bulan yang diketahui melalui pemeriksaan petanda kerusakan ginjal (misalnya proteinuria, hematuria) dan/atau laju filtrasi glomerulus ginjal < 60 ml/menit/1,73m2. Laju filtrasi glomerulus (LFG) merupakan indikator penting untuk fungsi ginjal yang sangat berguna untuk deteksi, evaluasi dan manajemen penyakit ginjal kronik (PGK). LFG tidak bisa diukur secara langsung, sehingga pada praktek rutin dan penelitian yang digunakan adalah estimasi LFG (eLFG). Pemeriksaan eLFG yang sering digunakan adalah Cockroft and Gault (CG) dan Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) yang didasarkan pada pemeriksaan kreatinin. Persamaan MDRD berasal dari populasi PGK rawat inap di rumah sakit, Oleh sebab itu generalisasi persamaan ini untuk individu normal masih dipertanyakan. Selain itu masih banyak situasi lain di mana persamaan ini belum tervalidasi, seperti pada pasien diabetes, berat badan yang ekstrim, dan ras tertentu. Pada banyak studi diketahui pada level fungsi ginjal yang tinggi presisi MDRD ini buruk karena underestimate terhadap LFG. Karena ada beberapa masalah dengan pengukuran kreatinin dan penggunaannya untuk estimasi LFG, maka Cystatin Cdiusulkan sebagai alternatif penanda fungsi ginjal. Potensi penggunaan Cystatin C di laboratorium terletak pada kemampuan Cystatin C untuk mendeteksi kerusakan ginjal pada tahap dini, misalnya pada tahap 2 PGK (LFG = 60-90 ml/min/1,73 m2).
Berdasarkan hal di atas, Laboratorium Klinik Prodia Banjarmasin ingin mengenalkan lebih jauh kepada para Dokter tentang manfaat pemeriksaan Cystatin C untuk deteksi dini penyakit ginjal kronis.
Seminar Dokter ini akan dilakukan pada :
Hari : Kamis
Tanggal : 29 September 2011
Waktu : 12.00 Wita s/d 14.00 Wita
Tempat : Aula Komite Medik RSUD Ulin Banjarmasin
Informasi pendaftaran :
Laboratorium Klinik Prodia
Jl. Ahmad Yani Km. 3,5 No. 131,133 Banjarmasin
Tlp : (0511) 3273500, 3253643
Fax : (0511) 3274127